Nama : Muhamad Galang Isnawan
NIM : 12709251021
Kelas : A
Prodi : Magister Pendidikan Matematika
2012
FILSAFATKU
OTAKKU
(18 September
2012)
Filsafat disebut sebagai ibu dari ilmu pengetahuan. Hal
ini disebabkan karena memiliki objek semua yang ada dan mungkin ada. Jawaban
ada atau tidak mungkin ada itu tidaklah terlalu penting, yang terpenting adalah
penjelasan. Sangat mengadakan tidak ada. Ketika berbicara tentang kata tidak
ada, kita sebenarnya sudah mengadakan tidak ada tersebut. Dibicarakan saja
sudah bisa, apalagi untuk dipikirkan. Begitulah logikanya. Ada sistem waktu,
yaitu A (kemarin, sekarang, dan akan datang) dan B (sebelum, peristiwa, dan
sesudah). Tidak adalah kita mampu menunjuk waktu yang sekarang meskipun dengan
kecepatan cahaya sekali pun. Ketika kita menunjuk waktu sekarang, sebenarnya
ketika kita menunjuk tersebut waktu sudah berubah menjadi lampau, belum selesai
kita menunjuk, waktu sudah berubah menjadi lampau. Hal ini disebabkan karena
waktu lampau, sekarang, dan akan datang adalah satu kesatuan. Oleh karena itu,
waktu yang sekarang didefinisikan dengan waktu yang lampaudan akan datang.
Implementasinya adalah kita hidup tidak bisa terputus dari waktu sekarang,
lampau, dan akan datang. Sehingga kejadian hidup banyak dikaitkan dengan waktu.
Ketika kita berbicara tentang hidup yang sehat adalah sama artinya dengan
filsafat hidup sehat. Dalam hidup haruslah melalui beberapa tahapan-tahapan
sistematis. Dalam hidup sering juga terjadi masalah yang tidak sehat, yaitu
ketika seseorang datang seketika dan pergi juga tidak ada kabar.
Berbicara tentang filsafat mimpi. Seribu satu macam mimpi
telah kita temui. Objeknya satu, yaitu satu mimpi tetapi metodenya berdimensi.
Dalam filsafat, jika kita bisa menggunakan metode ilmiah untuk membuktikan
pemikiran kita, maka gunakanlah. Akan tetapi jika tidak, maka gunakanlah
hipotecikal analisis. Jika orang yang yang menguji kebenaran tersebut
berpengalaman, maka dinamakan refleksi tetapi jika sebaliknya, maka dinamakan
“ngawur”. Jika kemudian hal tersebut tidak dapat dibuktikan, maka serahkanlah
semuanya kepada Allah SWT dan yakinlah bahwa itu adalah kodrat yang dimilki
oleh hal tersebut. Contohnya, mimpi. Dunia metode dan pendekatan adalah
epistemologi. Genetik epistemologi, mempelajari mimpi berdasarkan sistem kerja
otak. Tidak pernah ada yang menjamin kebenaran mimpi hanya dengan menggunakan
hipotetical saja. Ada hal yang menarik tentang mimpi, ketika seorang rasul atau
nabi bermimpi biasanya mimpi tersebut adalah ilham dari Allah SWT. Ilham adalahn sesuatu yang jelas datangnya
secara tiba-tiba. Bahkan ada seorang presiden di Uganda yang bernama Idiamin,
menggunakan mimpinya dalam mengambil keputusan. Banyak hal yang dapat kita
simpulkan dari mimpi, tetapi percayalah bahwa mimpi orang-orang seperti kita
adalah hanya sekedar bunga tidur dantidak bisa dibuktikan kebenarannya.
`Selanjutnya, beralih ke pembicaraan mengenai kebimbangan
dalam hidup. Bimbang secara filsafat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bimbang
dalam pikiran dan bimbang dalam hati. Kembangkankanlah kebimbangan sebesar
apapun dalam pikiran kita karena itu akan membuat kita menjadi berpikir atau
awal dari pengetahuan. Akan tetapi, janganlah kita membiarkan kebimbangan
sekecil apapun di dalam hati kita. Karena kebimbangan semacam itu adalah seekor
iblis.
Pribadi
yang teguh adalah pribadi yang berikhtiar menggapai harmoni. Pribadi yang
selalu berikhtiar, yang fleksibel, yang sesuai dengan konteks, dan kreatif
(tidak berhenti mencari metode). Allah SWT telah menciptakan kita alam semesta
beserta isinya agar kita mampu mengolahnya demi tercapainya suatu harmoni di
dalam dunia ini.
Semua
ilmu muncul setelah era Auguste Comte. Bedakan antara ilmu dan pengetahuan.
Ilmu adalah terstruktur dalam wadahnya dan saling berkaitan. Sedangkan
pengetahuan bersifat singular. Objek yang pertama dipelajari adalah objek alam.
Hakekat yang membedakan adalah setiap yang ada dan mungkin ada adalah
dimensinya. Yang membedakan orang yang satu dengan yang lain adalah dimensinya.
Berpikir dapat kita bedakan menjadi tiga macam berpikir, yaitu berpikir biasa,
ilmiah, dan filsafat. Berpikir biasa adalah berpikirnya orang awam atau
biasa-biasa. Antara berpikir biasa, ilmiah, dan filsafat yang membedakannya
objek dan metodenya. Berpikir biasa tidak bersifat sistematis. Kemudian polanya
pun tidak ada. Sedangkan berpikir ilmiah diperkuat oleh logika dan evidence.
Berpikir filsafat merangkum semua metode yang ada. Berpikir filsafat adalah
filsafat ilmu atau epistimologi. Kesemuanya ini tidak lepas dari ilmu
pengetahuan, bagaimana perkembangannya, dan referensinya. Berpikir biasa
termasuk ke dalam kualitas tingkat satu (metafisik) karena hanya melihat dari
luarnya saja. Sedangkan kualitas tingkat dua adalah mengapa dan jarang berpikir
biasa masuk ke dalam tingkatan ini. Filsafat termasuk ke dalam tingkat tiga,
empat, dan selanjutnya (metafisik). Atau bahasa kasarnya disebalik yang ada, di
sebalik yang ada, dan seterusnya. Anak kecil adalah salah satu contoh berpikir
biasa, bahkan mitos. Kita tidak bisa memaksakan anak kecil menggunakan logos.
Berpikir biasa (common sense) adalah bahasa yang paling mudah dipahami,
contohnya bahasa elegi. Ketika bahasa kita sulit untuk diterima orang awam,
maka kita pasti mengalami masalah, terutama dalam filsafat. Sebenarnya,
filsafat dalam elegi bertujuan agar kita terampil dalam mengungkapkan bahasa
kualitas tinggi. Bahasa biasa dipelopori oleh J.E. Moore.
Sekarang,
kita beralih konteks pada masalah keajaiban dan mukjizat. Keajaiban dari sudut
pandang filsafat adalah sesuatu kejadian yang tidak bisa dijelaskan. Keajaiban
biasanya berkonotasi positif. Keajaiban lebih dari sekedar gambling atau
perjudian. Sedangkan mukjizat adalah segala sesuatu yang konotasinya datang
dari Allah SWT dan yang mendapatkannya hanyalah para nabi dan rasul. Mukjizat
sudah pasti ajaib tetapi ajaib belum tentu mukjizat.
Tidak
ada dan ada. Keberadaan tidak ada sama pentingnya dengan ada. Contohnya, ruang
hampa udara yang sangat berguna bagi penelitain mengenai luar angkasa, tidak
ada pertikaian, tidak ada utang, dan lain sebagainya. Antara tidak ada dan ada
itu ada dimensinya.
Filsafat
bisa bersifat subjektif, individual, kelompok, negara, dan sebagainya. Kapan
saatnya kita berhenti berpikir, yaitu ketika kita sedang berdoa. Tidak akan
khusuk doa seseorang tersebut ketika mereka masih menggunakan otaknya untuk
berpikr pada saat mereka berdoa. Doa
merasuki segala aspek yang ada dan yang mungkin ada di dalam hidup kita. Setinggi-tinggi
dimensi berfilsafat seseorang adalah ketika dia sudah mampu untuk membangun
dunia kemampuannya. Membangun filsafat adalah rangkaian atau tali-temali yang
pilar-pilarnya adalah pendapat para filsuf. Setiap yang ada dan mungkin ada dalam hidup
harus bisa kita rinci secara baik. Ketika industri-ekonomi-kuasa bergabung,
maka terbentuklah kapitalism.
Berfilsafat
sebenarnya berusaha mengenal berusaha mengenal diri sendiri. Dan sayangnya,
tidaklah ada orang yang benar-benar mengenal dirinya sendiri, melainkan hanya
berusaha untuk mengenal diri sendiri. Akan tetapi, ketika ada orang yang
beranggapan bahwa mereka sudah mengenal dirinya sendiri, berarti dia sudah
mengaku bahwa dia sudah mengenal ruhnya. Tidak ada satu orang pun yang mampu
menjelaskan ruhnya. Bedakan antar penjelasan dan kenal. Kenal bersifat
komplementer dan sebenar-benar adalah penjelasannya. Secerdas-cerdas orang
adalah dia yang berani mengambil keputusan. Hal ini adalah tingkatan filsafat
yang paling tinggi. Sebenar-benar
filsafat adalah penjelasannya. Berbicara tentang kepribadian ganda dari tolak
ukur filsafat. Kepribadian ganda berdasarkan filsafat termasuk ke dalam ranah
psikologi. Turunan yang paling dekat dengan filsafat adalah psikologi. Kepribadian
ganda disebabkan oleh keadaan tidak sehat, semisal banyaknya goncangan, disharmoni,
gangguan kesehatan-emosi-sosial-ekonomi. Kepribadian ganda biasanya terjadi
akibat adanya potensi orang lain yang sangat kuat di dalam diri seseorang
sehingga muncullah filsafat determinasi. Filsafat determinasi adalah filsafat
yang menggunakan power mind dalam menerapkannya. Contohnya, seorang anak aktor
holywood yang sangat menginginkan anak laki-laki, sampai-sampai dia mendidik
anak perempuannya agar menjadi laki-laki dari kecil. Dia memberikan perlakuan
layaknya anak laki-laki terhadap anak tersebut dari kecil. Sehingga pada
akhirnya, ketika anak itu sudah dewasa dan orang tuanya sudah meninggalkan, dia
pun memutuskan untuk menjadi laki-laki dengan mengoperasi payu daranya dan
menyuntikkan hormon testosteran ke dalam tubuhnya dan mengakibatkan suaranya
berubah dengan seketika.
Pertanyaan:
Bagaimanakah hakikat
doa dari sudut pandang filsafat spiritual?